jam
Sekarang Menunjukkan Jam
|
|
Senin, 18 Maret 2013
Kamis, 07 Maret 2013
Bershalawat Kepada Nabi Muhammad SAW
| Ditulis Oleh: Munzir Almusawa | |
| Monday, 18 February 2013 | |
|
Senin, 18 Febuari 2013
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا (رواه مسلم)
“ Dari Abi Hurairah Ra, sesungguhnya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu
kali, maka Allah bershalawat kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh
kali ”. ( HR. Muslim )Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ
خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ
وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ
اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا
لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي
الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ
بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Tunggal
dengan keabadian , Tunggal dengan kesempurnaan, Maha Tunggal menciptakan
kerajaan alam semesta dan menghamparkannya dari tiada, Yang Maha
memunculkan keluhuran-keluhuran bagi hamba-hambaNya di dunia dan di
akhirat, keluhuran dunia yang fana dan keluhuran akhirat yang abadi, dan
semua ciptaan Allah telah diisi dengan segala kenikmatan. Sebagaimana
Allah subhanahu wata’ala menciptakan air maka Allah simpan sedemikian
banyak kenikmatan pada air itu, diantaranya air tersebut sebagai
penghilang haus dan dahaga, sebagai pencuci dan pensuci (bersuci),
sebagai tempat kehidupan hewan-hewan air, sebagai pemandangan yang indah
dan lain sebagainya dari manfaat-manfaat yang Allah ciptakan dalam air
tersebut. Demikian pula Allah subhanahu wata’ala menciptakan api,
diantara manfaat api adalah untuk memasak, memanaskan, menghangatkan,
dan lain sebagainya dari hal-hal yang bermanfaat dari penggunaan api
tersebut.Kemudian Allah subhanahu wata’ala menciptakan tanah dan menumbuhkan bermacam-macam tumbuhan di atasnya yang menghasilkan berbagai macam buah-buahan yang mana memiliki manfaat yang berbeda-beda, menumbuhkan sayur-sayuran dan pepohoan yang dapt digunakan uga untuk berteduh dan lainnya. Lalu Allah subhanahu wata’ala menciptkan hewan-hewan yang memiliki manfaat yang bermacam-macam, sehingga terkadang ada hewan yang nampaknya tidak bermanfaat namun kenyataannya justru hewan tersebut membawa manfaat yang besar, sebagaimana yang kita ketahui bahwa cairan yang paling manis adalah madu padahal asal mula madu adalah dikeluarkan oleh serangga, begitu juga kain yang paling bagus dan paling mahala dalah sutera padahal asal mulanya terbuat dari ulat, adapun minyak wangi yang paling mahal adalah misk padahal asal mulanya berasal dari bagian darah kijang, demikian banyak hal-hal yang berharga dan dimuliakan di muka bumi ini ternyata berasal dari hal-hal yang hina. Dan Allah subhanahu wata’ala juga menjadikan dalam ciptaan-ciptaanNya itu terdapat mudharat (bahaya), seperti air yang dapat membawa musibah, bakteri , penyakit dan lain sebagainya, begitu juga pada ciptaan yang lainnya seperti api, tanah, gunung-gunung, pepohonan, udara, kesemua ciptaan itu dapat juga membawa musibah selain juga membawa manfaat. Kemudian Allah subhanahu wata’ala mengutus sang Rahmatan Lil’alamin, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa rahmat bagi sekalian alam semesta, yang kemudian Allah menjadikan banyak hal yang tadinya akan membawa musibah dari ciptaan-ciptaan Allah subhnahu wata’ala, berubah menjadi membawa manfaat. Sehingga hanya dengan dzikir-dzikir yang sepertinya sangat remeh dan tidak berartipun hal itu justru dapat menghindatkan seseorang dari musibah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Shahih Muslim bahwa seorang sahabat mengadu bahwa ia telah tersengat kalajengking, maka Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam berkata : “ Jika engkau membaca doa :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“ Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang mulia dan sempurna dari kejelekan yang diciptakan”
Sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali sore hari, maka sungguh engkau tidak akan ditimpa bahaya apa pun. Demikian rahasia kemuliaan dari tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Selanjutnya hadits riwayat Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ( رواه مسلم )
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat
kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh kali”. ( HR. Muslim)
Adapun shalawat Allah kepada hamba-hambaNya adalah bahwa Allah melimpahkan rahmat kepada mereka. Sedangkan shalawat dari malaikat adalah bahwa malaikat memohonkan pengampunan dosa-dosa untuk hamba kepada Allah subhanahu wata’ala. Adapun shalawat dari manusia adalah berupa doa dan munajat kepada Allah subhanahu wata’ala agar menambahkan kemuliaan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala. Maka dari hadits tersebut terbukalah rahasia keagungan cinta Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ( الأحزاب : 56 )
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( QS. Al Ahzaab : 56 )
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang bershalawat kepadanya sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya (melimpahkan rahmat) sepuluh kali. Sungguh ribuan shalawat dari kita tidak berarti dibanding dengan shalawat Allah, bahkan jika seluruh alam semesta ini bershalawat maka hal itu tidak akan menyamai satu shalawat dari Allah subhanahu wata’ala. Dan disini Allah subhanahu wata’ala akan bershalawat sepuluh kali untuk orang yang bershalawat kepada nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam satu kali. Hal ini menunjukkan sungguh besarnya sambutan Allah subhanahu wata’ala kepada yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, satu kali cinta seseorang kepada sang nabi maka Allah jawab dengan sepuluh kali cinta dari Allah subhanahu wata’ala. Jadi mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah perbuatan yang kultus atau syirik, namun mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah merupakan anugerah besar dan akan berlanjut dari hal itu limpahan anugerah yang lebih besar dari Allah subhnahu wata’ala di dunia dan di akhirat. Selanjutnya kita membahas kitab Ar Risalah Al Jami’ah karangan Al Imam Ahmad bin Zen Al Habsyi Ar, dan kita telah selesai dari pembahasan kalimat :
اَلْحَمْدُللهِ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
Di malam ini kita akan membahas kalimat وَصَلَّى اللهُ “Washalla Allahu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ
صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ
عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“ Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat
untuknya sepuluh kali, dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan (dosa),
dan ditinggikan baginya sepuluh derajat”.
Adapun yang dimaksud dengan ditinggikan sepuluh derajat adalah didekatkan kepada Allah subhanahu wata’ala sepuluh kali lebih dekat dari keadaan sebelumnya, maka seandainya seseorang yang hidup di saat ini ia bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam satu kali, maka Allah akan mendapatkan sepuluh kali shalawat dari Allah subhanahu wata’ala, dan dihapuskan darinya sepuluh dosa, serta ia terangkat sepuluh derajat lebih dekat kepada Allah subhanahu wata’ala, sungguh betapa beruntungnya orang yang cinta kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa mulianya perkumpulan shalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka setelah bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pilihlah doa yang ingin diminta dan dipanjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala karena orang tersebut telah terangkat sepuluh derajat lebih tinggi, dan telah berjatuhan darinya sepuluh dosa, sehingga ketika itu ia berada lebih dekat pada pintu terkabulnya doa-doa, demikian agungnya kemuliaan satu shalawat. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan teriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabiir oleh Al Imam At Thabrani:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ عَشْرًا بِهَا مَلَكٌ مُوَكَّلٌ بِهَا حَتَّى يُبْلِغْنِيهَا
“ Barangsiapa bershalawat kepadaku, Allah bershalawat dan bersalam
kepadanya sepuluh, dan shalawat itu ada malaikat yang membawanya hingga
menyampaikannya kepadaku”
Dalam hadits ini ditambahkan bahwa Allah subhanahu wata’ala juga memberi salam kepada yang bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seseorang jika mendengar bahwa pak RW kirim salam kepadanya maka ia sangat gembira, terlebih lagi jika ia adalah lurah, bupati, gubernur, atau presiden dan terlebih lagi jika yang bersalam adalah Rabbul ‘alamin subhanahu wata’ala karena seseorang telah bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beruntunglah orang-orang yang duduk dalam perkumpulan yang terang benderang dengan shalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Kahil :
ياَ أَبَا كَاهِل
أَنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَكُلَّ
لَيْلَةٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ حُبًّا بِيْ وَشَوْقًا إِلَيَّ كَانَ حَقًّا
عَلَى اللهِ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ ذُنُوْبَهُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَذَلِكَ
الْيَوْم.
“Wahai Aba Kahin, seseungguhnya barangsiapa yang bershalawat kepadaku di
setiap siang hari 3 kali dan setiap malam 3 kali dengan penuh kecintaan
kepadaku dan kerinduan kepadaku, sungguh Allah akan mengampuni
dosa-dosanya di malam itu dan di hari itu”
Para pecinta dan yang rindu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam maka Allah subhanahu wata’ala akan menghapus dosa-dosanya di malam dan di siang itu, yaitu dengan shalawat yang dipenuhi cinta dan rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sayyidina Anas bin Malik berkata teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari :
مَا رَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبَ مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“ Tidaklah kami melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”
Dalam riwayat yang lain disebutkan :
كَأَنَّهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ
“ Seakan-akan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah potongan bulan purnama”
Dan dalam riwayat yang lain disebutkan :
كَأَنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ تَدُوْرَانِ فِيْ وَجْهِهِ
“ Seakan-akan matahari dan bulan beredar di wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”
Wajah terindah yang dicipta oleh Allah subhanahu wata’ala, makhluk yang paling ramah dan paling baik kepada semua teman, dan berakhlak luhur kepada semua musuhnya. Disebutkan dalam sebuah riwayat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dijamu dengan makanan oleh orang-orang Yahudi, maka nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi jamuan tersebut dimana makanan itu telah dibubuhi racun, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulurkan tangan pada makanan tersebut, maka makanan yang sudah dimasak itu berbicara dengan berkata : “Wahai Rasulullah , jangan engkau memakanku karena aku telah diberi racun”, maka Rasulullah shallallahu menarik kembali tangan beliau dan melarang para shahabat untuk memakannya, namun sebagian dari para sahabat ada yang telah memakannya sehingga mereka pun meninggal. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk mencari dan orang yang telah membubuhi racun pada makanan tersebut, maka tertangkaplah seorang wanita Yahudi yang telah meracuni makanan-makanan tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya : “Mengapa engkau meracuni makanan-makanan ini?”, wanita Yahudi itu menjawab : “Karena aku ingin bukti bahwa engkau adalah benar sebagai Rasulullah, sebab jika engkau hanyalah sekedar mengaku-ngaku sebagai Rasulullah maka engkau pasti akan memakan makanan itu sehingga engkau akan meninggal, namun jika engkau adalah benar seorang nabi maka engkau tidak akan memakan makanan yang beracun itu, dan ternyata engkau tidak memakannya maka sungguh engkau adalah benar-benar nabi”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Bebaskanlah wanita itu”, sehingga beliau tidak menghukum wanita itu justru membebaskannya, adakah akhlak yang lebih mulia dari akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?!. Hal ini juga membuktikan bahwa makanan tersebut mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian rahasia budi pekerti terindah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana sulit untuk kita temui di barat dan timur serta sulit untuk kita ketahui kecuali dengan mempelajarinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dimuliakan Allah subhanahu wata’ala begitu juga orang-orang yang mencintainya shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana hadits yang telah disebutkan. Dan kita berada di majelis ini, telah berapa kali kita bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga diantara shalawat itu ada yang menjadi penghapus atas dosa-dosa kita, dan orang-orang yang berkumpul di tempat ini kesemuanya adalah orang-orang yang mencintai dan rindu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yan teriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabir oleh Al Imam At Thabrani Ar:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ بَلَغَتْنِيْ صَلاَتُهُ وَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِوَى ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ
“ Barangsiapa yang bershalawat untukku maka shalawat itu akan sampai
kepadaku, dan aku bershalawat untuknya, dan selain itu dituliskan
baginya sepuluh kebaikan”
Demikian rahasia kemuliaan bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hadits yang menjelaskan tentang kemuliaan shalawat sangatlah banyak. Dan pembahasan kita dalam kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah masih sampai dalam pembahasan kalimat وَصَلَّى اللهُ “ Washalla Allahu”. Malam Selasa yang akan datang insyaallah akan kita lanjutkan kembali pembahasan tentang makna shalawat ini, dan masih banyak penjelasan akan hal ini dimana sebagai penyemangat dan kabar gembira untuk orang-orang yang bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun sebenarnya telah cukup bagi kita untuk memahami kemuliaan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan firman Allah subhanahu wata’ala :
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ( الأحزاب : 56 )
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( QS. Al Ahzaab : 56 )
Namun karena masih dangkalnya keilmuan kita, sehingga kita masih perlu untuk mengorek lagi lebih dalam makna-makna dan kemuliaan dari shalawat ini, yang insyaallah akan kita lanjutkan di majelis yang akan datang. Dan di malam ini setelah kita bershalawat dan bersalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita akan melakukan shalat ghaib untuk syarifah Nur binti Ali Al Haddad yang wafat di Singapura, dan untuk saudari Aminah binti Amir dari Papua, yang akan dipimpin oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Atthas dan sekaligus doa penutup. |
Selasa, 26 Februari 2013
Fidhah : Berbicara dengan Ayat Al-Qur’an
Fidhah : Berbicara dengan Ayat Al-Qur’an
Ia hafal Al-Qur’an dan selalu berbicara menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Namanya dalam sejarah Islam memang tidak banyak disebut. Maklum ia hanyalah pembantu (khadam) Sayyidah Fathimah Az-Zahra, putri bungsu Baginda Nabi Muhammad SAW.
Sebagai pembantu keluarga kekasih Allah SWT, sudah barang tentu ia banyak menyerap pengalaman-pengalaman ruhani yang berbeda dengan pemeluk Islam lainnya, setidaknya dalam pengamalan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Apalagi, waktunya tidak sebentar dalam mengabdikan dirinya kepada Fathimah dan suaminya, Ali bin Abi Thalib. Maka, tak mengherankan bila kemudian Fidhah juga memiliki sikap dan kebiasaan yang sesuai dengan tuntunan agama Islam.
Namun yang paling berkesan dalam tindak-tanduknya sehari-hari adalah berbicara tidak secara langsung melainkan dengan menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Kisah berikut adalah perbincangan antara Fidhah dan seorang sahabat dalam suatu perjalanan panjang dari desanya di sekitar Madinah menuju Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan di tengah padang pasir yang kering kerontang itu dilakukannya dengan berjalan kaki seorang diri. Ini semata karena niatnya yang kuat untuk berhaji.
Melihat seorang wanita berjalan sendirian di tengah padang pasir, sahabat itu penasaran dan tak kuasa menahan keinginan hatinya untuk bertanya. Sambil menghentikan untanya di samping wanita itu, sahabat itu bertanya, “Maaf, siapakah Anda?”
Ternyata jawaban wanita tersebut membuatnya berdecak kagum. “Dan katakanlah salam. Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).”
Untuk menjawabnya, ternyata wanita itu menyitir ayat Al-Qur’an. Sesuatu yang belum pernah ia jumpai.
Dari ayat tersebut, ia ingin mengatakan, pertama-tama kalau bertemu dengan seseorang hendaklah mengucapkan salam, baru kemudian bertanya. Karena memberikan salam merupakan tanda dan kewajiban bahwa kita ini orang Islam.
Maka, sahabat itu pun mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum.” Setelah itu barulah ia bertanya, “Apa yang Anda kerjakan di padang pasir yang panas dan kering kerontang ini seorang diri?”
Wanita itu menjawab, “Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya.”
“Oh, rupanya ia tersesat,” si sahabat berguman. “Namun ia punya keyakinan kuat bahwa Allah SWT selalu membimbingnya dan memberikan jalan keluar.”
“Anda hendak menuju ke mana dengan pakaian seperti ini?” tanya si sahabat lagi yang melihat pakaian wanita itu sudah lusuh dan berdebu.
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang paling indah di setiap (memasuki) masjid,” jawabnya.
“Oh, rupanya ia hendak menuju suatu masjid.”
“Dari mana Anda datang?”
“Mereka itu adalah (seperti) orang orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”
Sahabat itu maklum, rupanya wanita itu datang dari tempat yang jauh.
Lantas ia bertanya lagi, “Anda mau pergi ke suatu tempat persisnya di mana?”
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang- orang yang sanggup.”
Jawaban itu menjadi jelas bagi si sahabat bahwa wanita yang ditemuinya ini hendak ke Baitullah di Makkah.
Lalu ia bertanya lagi, “Sudah berapa lama Anda berjalan?”
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa.”
Si sahabat paham bahwa wanita itu telah menempuh perjalanan selama enam masa, yang dia artikan enam hari.
“Anda sudah makan?” tanyanya lagi.
“Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada makan makanan.”
Rupanya wanita itu belum makan selama beberapa hari.
“Kalau begitu, maukah Anda saya antar ke kafilah Anda?”
Wanita itu menjawab, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ayat tersebut menyiratkan bahwa ia tidak sanggup berjalan cepat dan tidak memiliki kekuatan lagi untuk berjalan menuju Baitullah. Maka, tergerak hati si sahabat untuk membantunya berjalan. “Naiklah ke untaku agar dapat sampai ke tujuan.”
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa,” jawabnya.
Si sahabat menyadari maksud jawaban itu, yaitu bahwa si wanita itu menolak duduk berdampingan antara lelaki dan perempuan, karena itu ia segera turun dari punggung untanya dan mempersilakan wanita itu duduk di punggung untanya. “Duduklah di sana,” katanya.
Setelah unta itu berjalan, wanita itu berkata, “Mahasuci Tuhan, Yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya.”
Memberi Imbalan
Setelah berjalan beberapa lama, mereka bertemu satu rombongan kafilah.
“Apakah ada yang Anda kenal dalam kafilah itu?” tanya si sahabat kepada wanita itu.
Ia pun menjawab, “Muhammad tidak lain seorang rasul.” Lantas dilanjutkan, “Hai Yahya, ambillah alkitab itu dengan sungguh-sungguh.” Juga, “Hai Musa, sesungguhnya akulah Allah.” Kemudian, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi.”
Si sahabat menafsirkan bahwa di dalam rombongan itu ada kenalannya yang bernama Muhammad, Yahya, Musa, dan Daud. Lalu dipanggillah nama-nama itu.
Empat pemuda mendekat, wanita itu berkata kepada mereka, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”
Si sahabat sadar bahwa keempat pemuda itu adalah anak-anaknya.
Kepada keempat anaknya itu wanita itu berkata, “Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
Si sahabat menyadari bahwa wanita itu mengharapkan agar anak-anaknya memberi imbalan kepada dirinya karena telah mengantarkan ibunya.
Lantas keempat pemuda itu mengeluarkan uang dan memberikan kepada si sahabat.
Si ibu berkata, “Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”
Si sahabat merasa bahwa si ibu berkata kepada anak-anaknya, “Tambahlah imbalannya.”
Si sahabat kemudian bertanya kepada keempat pemuda tersebut, “Siapakah sesungguhnya ibu kalian ini? Terus terang, belum pernah aku melihat wanita seperti dia.”
“Beliau adalah Fidhah, pembantu Sayyidah Fathimah Az-Zahra yang selama 20 tahun tidak bicara melainkan dengan menyitir ayat-ayat suci Al-Qur’an,” jawab salah seorang di antara mereka.
Si sahabat tidak menutupi kekagumannya dan berucap, “Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.”
Sumber: http://www.majalah-alkisah.com
Langganan:
Postingan (Atom)
